Psalm for the Day

Rabu, 23 Maret 2011

STUDI TENTANG RITUAL TINGKEBAN DI DUSUN PUNCU DESA GAMPENG KECAMATAN NGLUYU KABUPATEN NGANJUK

Oleh : Mas Ahmad Efendi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Suatu kebudayaan dari suatu daerah dengan daerah yang lain sungguhlah berbeda. Itu semua disebabkan banyak factor seperti keadaan masyarakatnya, letak geografisnya dan lain-lain. Islam menyebarkan ajaranya ke tanah jawa dengan cara yang halus. Tetapi sebelum datangnya islam di tanah jawa sudah ada agama Hindhu yang sudah menyebar begitu luas. Secara ajaran agam Hindhu sudah lebih dulu membaur dengan adat istiadat asli masyarakat. Salah satu contoh adalah ritual tingkeban, dimana didalamnya mengandung unsur agama hindu, seperti adanya sesajen atau tumpengan dan ada tokoh pewayangan yaitu srikandi dan janaka yang dilukiskan di sebuah kelapa.
Tetapi islam tidak gentar dalam berdakwah, meraka tidak serta merta langsung menghapus ritual tingkeban tetapi memasuki ajaran atau ruh islam ke dalam ritual tingkeban. Seperti pembacaan surat yusuf atau surat maryam dan ritual tingkeban diadakan setelah usia kandungan berumur 4 bulan. Dengan begitu sedikit demi sedikit ritual yang menyeleweng dari ajaran agama islam bisa luntur. Tetapi problema yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana cara kita melestarikan budaya tersebut. Banyak manfaat yang kita peroleh dengan adanya ritual tingkeban tersebut salah satunya adalah mempersatukan emosi baragama dan bermasyarakat. Sekarang banyak fakta dilapangan menyebutkan bahwa suatu masyarakat tetap melakukan ritual tingkeban tetapi mereka tidak mengetahui makna dan filosofi sebuah ritual tersebut. Itu semua disebabkan oleh tokoh-tokoh masyarakat yang mengerti sudah banyak yang meninggal sebelum diwariskan ke anak-cucunya. Serta kurang minatnya para pemuda dalam mempelajari dan melestarikan budaya tingkeban.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana prosesi dan filosofinya tingkeban yang ada di dusun Puncu desa Gampeng kecamatan Ngluyu kabupaten Nganjuk?
b. Bagaimanakah tanggapan agama Islam tentang ritual tingkeban?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tingkeban
Tingkeban biasanya dilakukan saat kandungan berumur tujuh bulan. Arti tingkeban sendiri banyak yang memberi makna yang berbeda, makna tingkeban dalam kamus ilmiah popular adalah selamatan bulan kandungan. tetapi intinya tingkeban adalah bersyukur kepada Tuhan dan memdo’akan si jabang bayi agar lahirnya selamat dan menjadi anak yang sholeh sholihah.
Tingkeban atau biasa disebut dengan mitoni yang berasal dari kata pitu atau tujuh. Upacara ini dilaksanakan pada usia kehamilan ketujuh dan pada kehamilan pertama kali. Orang jawa percaya bahwa jabang bayi yang berumur tujuh bulan sudah mempunyai raga yang sempurna serta sudah mencapai proses penciptaan manusia tahap nyata dan sempurna atau Sapta Kawasa Jati.

B. Tujuan Tingkeban
a. Bersyukur kepada Tuhan YME
b. Mendo’akan agar sijabang bayi lahir dengan lancar, cepat berjalan, dan mendo’akan agar sibayi nanti menjadi anak yang sholeh sholehah, berbakti kepada nusa bangsa.
C. Perangkat Ritual Tingkeban Dan Maknanya.
Di dalam ritual tingkeban, ada beberapa prosesi yang dilakukan yaitu:
a. Rujaan. Dalam prosesi rujaan ini ada beberapa perangkat yang harus dipersiapkan seperti:
• Pisang muda
• Jeruk
• Mangga pakel
• Kelapa hijau
• Lesung/lumpang
• Alu
Prosesi rujaan ini mempunyai makna agar bayi yang di dalam kandungan nanti lahir dalam keadaan segar.
b. Kirim do’a terhadap arwah leluhur. Dalam prosesi ini ada beberapa bahan atau perangkat yang harus dipersiapkan seperti:
• Nasi uduk : ditujukan kepada Nabi dan Rosul.
• Nasi golong : ditujukan kepada sunan kali jaga.
• Nasi buket : ditujukan kepada ayah dan ibunya.
• Jenang merah : ditujukan kepada Nabi Ibrahim.
• Ketan tawa : ditujukan kepada Nabi Adam dan siti Hawa.
• Rujak
• Nasi bucu tujuh : bahwa kandungannya tujuh bulan.
• Pasuman : ditujukan kepada kaki procot Nini procot.
• Nasi tumpeng yang ditaruh di atas encek ( anyaman bambu).
c. Mandi atau siraman. Siraman ini biasanya dilakukan oleh suami istri dan ada beberapa perangkat yang harus dipersiapkan seperti:
• Sapu: Untuk membersihkan sesuatu yang bersifat negativ atau jelek.
• Pacul: melambangkan agar giat dalam bekerja
• Pedang atau parang: untuk membersihkan tempat yang akan dijadikan ritual.
d. Kirim do’a untuk tempat ritual. Biasanya setelah acara pemandian diadakan tumpengan. Tumpengan itu biasanya berupa nasi dan panggang ayam. Yang bermakna untuk minta izin atau ditujukan kepada tempat yang dibuat untuk ritual mandi atau siraman.

D. Prosesi Atau Ritual Tingkeban.
Prosesi tingkeban itu berbeda dari satu daerah dengan daerah yang lain. Saya memncoba meneliti tingkeban yang ada di dusun Puncu desa Gampeng Kecamatan Ngluyu kabupaten Nganjuk. Di mana prosesi tingkeban dicari hari yang baik, biasanya hari rabu atau sabtu. Ritual tingkeban yang ada di dusun Puncu sudah ada sejak dulu yang dilakukan secara turun-temurun dan sudah menjadi subuah adat istiadat. Adapun acara ritual tingkeban sebagai berikut:
a. Prosesi pertama adalah rujaan, rujaan biasanya dilakukan sebelum matahari terbit. Bahan-bahan dalam rujaan ada pisang muda , jeruk, mangga pakel, dan kelapa hijau. Semua bahan ditumbuk menjadi satu dengan alu diatas lumpang atau lesung. Bisanya penumbukannya dilakukan oleh wanita dan mengeluarkan irama yang indah. Mereka berkeyakinan apabila rasa rujaknya agak pedas itu pertanda anaknya yang akan lahir nanti perempuan, dan apabila rujaknya rasanya enak maka yang lahir nanti anaknya laki-laki. Setelah itu rujaknya jual ke tetangga- tetangga.
b. Prosesi kedua sebelum acara pemandian adalah hajatan. Di mana tuan rumah mengundang warga setempat untuk ikut hajatan. Didalam acara hajatan ada ada beberapa makanan yang harus disediakan oleh tuan rumah. Seperti nasi tumpeng yang ditaruh di atas encek yang jumlahnya tidak boleh ganjil. Terus ada nasi golong, nasi uduk, nasi buket, jenang merah, ketan tawa, rujak, nasi bucu tujuh, dan pasuman. Setelah itu ada salah satu orang yang memimpin do’a yang bertujuan mendo’akan leluhur tuan rumah yang sudah meninggal dunia.
c. Prosesi ketiga setelah hajatan adalah pemandian. Setelah hajatan dilakukan warga dan wanita yang sedang hamil dan suaminya pergi menuju sendang. Sebelum menuju sendang biasanya ibu dari pihak laki-laki berada di depan untuk menyapu atau membersihkan dari sesuatu yang jelek. Sesampainya di sendang terus melakukan prosesi penyiraman. Suami istri dimandikan oleh keluarganya yang dulunya menggunakan tempurung kelapa, tetapi dengan berkembangnya zaman tempurung kelapa bisa diganti dengan cibuk. Terus untuk melancarkan airnya mereka mengugunakan cangkul dan untuk membersihkan semak-semak menggunakan parang. Setelah pemandian selesai suami istri mengganti pakaianya dengan yang kering dan melakukan hajatan lagi di tempat ritual pemandian dengan menu nasi tumpeng dan ayam panggang yang bertujuan untuk minta izin tempat pemandian.
d. Prosesi keempat adalah membelah kelapa. Disini ada dua warna kelapa. Kelapa warna kuning dan kelapa warna hijau. Dimana cara pengambilanya tidak boleh jatuh dari pohonnya. Lalu kedua kelapa itu diberi gambar Janaka sama srikandi. mereka berkeinginan apabila lahir laki-laki akan tampan seperti janaka dan cantik seperti srikandi. kelapa yang berwarna kuning untuk dibelah. Setelah pemandian selesai terus menuju kerumah, kemudian sampai di depan rumah membelah kelapa. Terus setelah membelah kelapa si laki-laki dan siperempuan langsung dibawa kedapur untuk berebutan telur. Mereka percaya dengan diadakannya rebutan telur anaknya nanti akan cepat berlari.
E. Pandangan Islam Mengenai Tingkeban.
Islam tidak melarang ritual tingkeban. Malah Islam melakukan dakwah melalui media tingkeban. Kita coba mengkaji hadis berikut ini: “ Sesungguhnya seseorang dari kamu semua itu dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari sebagai mani, 40 hari sebagai darah, 40 hari sebagai daging, kemudian Allah mengutus seorang malaikat, maka ia pun meniupkan roh kedalam tubuhnya. Dan malaikat ini diperintahkan mencatat 4 kalimat, yaitu: rizki orang itu, ajalnya( kematian), amal perbuatanya dan celaka tau bahagianya.” ( HR. Muslim). Dari hadis di atas ketika umur kandunga empat bulan maka ditiupkanya roh ke bayi tersebut. Jadi tradisi tingkeban itu ada yang berusia kehamilan 4 bulan ada juga yang umur kandungan 7 bulan. Biasanya ritual tingkeban tetap dilakukan sesuai adat jawa tetapi di masuki ajaran-ajaran islam seperti pembacaan surat maryam dan surat yusuf.
F. Analisis Penelitian
Ritual tingkeban adalah sebuah tradisi atau adat istiadat jawa yang dilakukan secara turun temurun. Masyarakat dusun Puncu desa Gampeng kecamatan Ngeluyu kabupaten Nganjuk sadar bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh makhluk materi, tetapi juga makhluk immateri yang disebut jiwa ( anima). Menurud Edward Burnet Taylor mengatakan bahwa asal mula agama bersamaan dengan munculnya kesadaran manusia akan adanya roh atau jiwa. Dimana roh ada di alam ini,. Makanya disalah satu prosesi ritual ada acara hajatan yang ditujukan untuk arwah nenek moyang atau leluhur.
Di dalam suatu prosesi tingkeban terdapat symbol-simbol kebersamaan didalamnya. Seperti apa yang dikatakan oleh Victor Turnerr. Ketika ia melakukan kajian ritual (upacara keagamaan) di masyarakat Ndembu di Afrika. Turner melihat bahwa ritual adalah simbol yang dipakai oleh masyarakat Ndembu untuk menyampaikan konsep kebersamaan. Menurut Victor Turnerr manfaat adanya ritual-ritual di dalam suatu masyarakat dan yang dilakukan oleh banyak masyarakat mengandung empat fungsi sosial yang penting. Pertama, ritual sebagai media untuk mengurangi permusuhan (reduce hostility) di antara warga masyarakat yang disebabkan adanya kecurigaan-kecurigaan niat jahat seseorang kepada yang lain. Kedua, ritual digunakan untuk menutup jurang perbedaan yang disebabkan friksi di dalam masyarakat. Ketiga, ritual sebagai sarana untuk memantapkan kembali hubungan yang akrab. Keempat, ritual sebagai medium untuk menegaskan kembali nilai-nilai masyarakat.
Jadi Turner melihat ritual tidak hanya sebagai kewajiban (prescribed) saja, melainkan sebagai simbol dari apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Ritual tingekeban adalah ritual yang lakukan oleh suatu system masyarakat, dari perkumpulan-perkumpulan yang dilakukan oleh masyrakat. Di dalam acara tingkeban akan memunculkan emosi keagamaan diantara mereka. Seprti yang diungkapkan oleh Durkheim dalam Teori elementer mengenai hidup beragama diuraikan dalam buku beliau yang berjudul Les Formes Elementaires De La Vie Religiuse (1912). Dalam bukunya itu, Durkhiem mengemukakan teori baru tentang dasar-dasar agama yang sama sekali berbeda dengan teori-teori yang pernah dikembangkan oleh para ilmuwan sebelumnya. Teori itu berrpusat pada pengertian dasar berikut:
a. Bahwa untuk pertama kalinya, aktivitas religi yang ada pada manusia bukan karena pada alam pikirannya terdapat bayangan-bayangan abstrak tentang jiwa atau roh, suatu kekuatan yang menyebabkan hidup dan gerak didalam alam. Tetapi, karena suatu getaran jiwa, atau emosi keagamaan, yang timbul dalam alam jiwa manusia lebih dahulu, karena pengaruh suatu sentimen keasyarakatan.
b. Bahwa sentimen kemasyarakatan dalam batin manusia dahulu berupa suatu kompleksitas perasaan yang mengandung rasa terikat, bakti, cinta, dan perasaan lainnya terhadap masyarakat dimana ia hidup.
c. Bahwa sentimen kemasyarakatan yang menyebabkan timbulnya emosi keagamaan dan merupakan pangkal dari segala kelakuan keagamaan manusia itu, tidak selalu berkobar-kobar dalam alam batinnya. Apabila tidak dipelihara, maka sentimen kemasyarakatan itu menjadi lemah dan laten, sehingga perlu dikobarkan sentimen kemasyarakatan dengan mengadakan satu kontraksi masyarakat, artinya dengan mengumpulkan seluruh masyarakat dalam pertemuan-pertemuan raksasa.
d. Bahwa emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentimen kemasyarakatan membutuhkan suatu objek tujuan. Sifat yang menyebabkan sesuatu itu menjadi obyek dari emosi keagamaan bukan karena sifat luar biasanya, anehnya, megahnya, atau ajaibnya, melainkan tekanan anggapan umum masyarakat. Objek itu ada karena terjadinya satu peristiwa secara kebetulan didalam sejarah kehidupan suatu masyarakat masa lampau menarik perhatian orang banyak di dalam masyarakat tersebut. Objek yang menjadi tujuan emosi keagamaan juga objek yang bersifat keramat. Maka objek lain yang tidak mendapat nilai keagamaan sipandang sebagai objek yang tidak keramat.
e. Objek keramat sebenarnya merupakan suatu lambang masyarakat. Pada suku-suku bangsa asli Australia, misalnya, objek keramat dan pusat tujuan dari sentimen kemasyarakatan, sering berupa tumbuh-tumbuhan. Objek keramat seperti itu disebut Totem. Totem adalah mengkonkretkan prinsip totem dibelakangnya. Dan prinsip totem itu adalah suatu kelompok dalam masyarakat berupa clan (suku) atau lainnya.
Jadi ritual tingkeban itu memiliki manfaat yang luar biasa. Yaitu mempersatukan emosi keagamaan, menumbuhkan rasa kebersamaan diantara para masyarakat. Dari ritual tingekeban ini juga tidak bisa kita pungikiri akan muncul juga keyakinan baru. Seperti yang diungkapkan emil Durkheim diatas bahwa asal mula agama muncul dari masyarakat itu sendiri.


BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
a. Ritual tingkeban yang ada di dusun Puncu. Pertama adalah mengadakan acara membuat rujakan, di mana prosesi ini bertujuan untuk agar si jabang bayi lahirnya dalam keadaan segar, seperti buah-buah yang dibuat rujaan. Acara kedua adalah hajatan, yaitu sebelum berangkat ke sendang untuk mengadakan siraman diadakan hajatan dulu dirumah yang punya hajat, di mana hajatan ini ditujukan untuk mendo’akan arawah nenek moyang yang punya hajat. Acara ke tiga adalah berangkat ke sendang( tempat pemandian) di mana mereka membawa perlengkapan berupa sapu di gunakan siibu dari pihak laki-laki untuk membersihkan jalan dari sesuatu yang jelek, cangkul di buat mengalirkan air agar siramanya lancer, parang untuk membersihkan ranting-ranting yang menghalangi. Terus setelah acara siraman diadakan hajatan di tempat siraman dengan bahan nasi tumpeng dan panggang ayam, dengan maksud minta izin. Acara selanjutnya adalah pulang kerumah dan mengadakan pemacahan kelapa kuning yang sebelumnya diberi lukisan janaka dan srikandi agar anaknya nanti jika laki-laki tampan seperti janaka, dan cantik seperti srikandi.
b. Islam tidak melarang ritual tingkeban. Malah Islam melakukan dakwah melalui media tingkeban. Kita coba mengkaji hadis berikut ini: “ Sesungguhnya seseorang dari kamu semua itu dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari sebagai mani, 40 hari sebagai darah, 40 hari sebagai daging, kemudian Allah mengutus seorang malaikat, maka ia pun meniupkan roh kedalam tubuhnya. Dan malaikat ini diperintahkan mencatat 4 kalimat, yaitu: rizki orang itu, ajalnya( kematian), amal perbuatanya dan celaka tau bahagianya.” ( HR. Muslim).



DAFTAR PUSTAKA
Kahmad, Dadang , Sosiologi Agama, ( Bandung; Rosdakarya, 2006).
Kangjeng Pangeran Harya Tjakraningrat, Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, ( Ngayogyakarta; Soemodidjojo Mahadewa).
Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, Jakarta:PT RINEKA CIPTA, 1998
M Dahlan Al Barry , Pius A Partanto, Kamus Ilmiah Populer, ( Surabaya; Arkola, 2006)
http://chandrarini.com/upacara-tingkeban-nujuh-bulanan, 21 Maret 2011.
www.scribd.com, 21 Maret 2011.
http://ahmadsamantho.wordpress.com/2011/03/22/antropologi-agama/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar